Amanat Orang Tua
by yafiz on july .11, 2011, under Bebas

Hai Nak,
Ini cerita cinta dari Ayah dan Bunda buatmu. Tidak untuk dijadikan pegangan hidup, karena sudah ada Al-Qur’an. Untuk itu tidak pula sebagai tuntunan laku, karena Rasul telah tinggalkan Sunnah bagi kita. Cukuplah engkau ingat-ingat dalam setiap jatah waktu yang engkau miliki.
Hai, nak
Kau mungkin tidak ingat kalimat dalam setiap kali kami menimangmu tidur berisi permohonan : (1) Berisi pujian (2) Berisi tanda syukur (3) Berisi kesaksian (4) Berisi pengakuan (5)Hai, nak
Kami mengajarkanmu makan dan minum, tidak untuk mengenyangkan perutmu, tidak pula untuk penuhi dahagamu. Tapi sekedar membantu agar engkau mampu menuntaskan kewajibanmu setelah itu. Dan ingat pada mereka-mereka yang masih mengais rezeki hari ini.
Hai, nak
Kami mengajarkanmu menggenggam tidak untuk menahan hak orang lain, tidak pula untuk merampasnya, tapi sekedar cara mempertahankan milikmu dan meletakkan sebagian isi genggamanmu pada tangan yang lebih berhak.
Hai, nak
Kami mengajarkanmu melangkah tidak hanya untuk menjejakkan kaki pada tempat yang engkau inginkan. Gunakan pelajaran itu nanti untuk tetapkan langkah pada jalan-Nya Walau berserak kerikil dan batu menyandung.
Hai, nak
Kami mengajarkanmu berbicara Tidak untuk berbual ria, tidak pula menikam musuh dalam fitnah. Manfaatkan kemampuan itu nanti untuk berbagi dan menyampaikan ilmu (6).
Dan selalu berdiskusi dengan-Nya.
Hai, nak
Duabelas purnama, itu dulu pelajaran buatmu. Bila Ia berikan lapang waktu akan kita teruskan pelajaran lainnya agar waktu yang terlewati dan setiap waktu yang tersisa selalu berisi pengabdian dan berlimpah dengan ridha-Nya
1 Istighfar (Astaghfirullah al’adzim)
2 Tasbih (Subhanallah)
3 Tahmid (Alhamdulillah)
4 Tahlil (La ilaha illa’Allah)
5 Takbir (Allahu Akbar)
6 Ilmu yang bermanfaat
Suatu malam, menjelang waktu subuh, Rasulullah SAW bermaksud untuk wudhu. “Apakah ada air untuk wudhu?” beliau bertanya kepada para sahabatnya. Ternyata tak ada seorang pun yang memiliki air. Yang ada hanyalah kantong kulit yang dibawahnya masih tersisa tetesan-tetesan air. Kantong itu pun dibawa ke hadapan Rasulullah. Beliau lalu memasukkan jari jemarinya yang mulia ke dalam kantong itu. Ketika Rasulullah mengeluarkan tangannya, terpancarlah dengan deras air dari sela-sela jarinya.
Para sahabat lalu segera berwudhu dengan air suci itu. Abdullah bin Mas’ud bahkan meminum air itu. Usai salat subuh, Rasulullah duduk menghadapi para sahabatnya. Beliau bertanya, “Tahukah kalian, siapa yang paling menakjubkan imannya?”
Para sahabat menjawab, “Para malaikat.” “Bagaimana para malaikat tidak beriman,” ucap Rasulullah, “Mereka adalah pelaksana-pelaksana perintah Allah. Pekerjaan mereka adalah melaksanakan amanah-Nya.”
“Kalau begitu, para Nabi, ya Rasulallah,” berkata para sahabat. “Bagaimana para nabi tidak beriman; mereka menerima wahyu dari Allah,” jawab Rasulullah.
“Kalau begitu, kami; para sahabatmu,” kata para sahabat. “Bagaimana kalian tidak beriman; kalian baru saja menyaksikan apa yang kalian saksikan,” Rasulullah merujuk kepada mukjizat yang baru saja terjadi.
“Lalu, siapa yang paling menakjubkan imannya itu, ya Rasulallah?” para sahabat bertanya. Rasulullah menjawab, “Mereka adalah kaum yang datang sesudahku. Mereka tidak pernah berjumpa denganku; tidak pernah melihatku. Tapi ketika mereka menemukan
Al-Kitab terbuka di hadapan, mereka lalu mencintaiku dengan kecintaan yang luar biasa sehingga sekiranya mereka harus mengorbankan seluruh hartanya agar bisa
berjumpa denganku, mereka akan menjual seluruh hartanya.”
* * *
Hadis di atas dimuat dalam Tafsir Al-Dûr Al-Mantsûr, karya mufasir Jalaluddin
Al-Syuyuti. Mudah-mudahan kita semua termasuk dalam kelompok ini; mereka yang
tidak pernah bertemu dengan Rasulullah tetapi mencintainya dengan sepenuh hati.
Masih dalam kitab ini, diriwayatkan bahwa suatu saat Rasulullah SAW bersabda,
“Berbahagialah mereka, para saudaraku (ikhwâni).” Para sahabat bertanya, “Apakah yang kau maksud dengan ikhwâni itu adalah kami, ya Rasulullah?” “Tidak,” jawab Rasulullah, “Kalian adalah para sahabatku. Yang aku maksud dengan
ikhwâni adalah mereka yang datang sesudahku.”
Bersegeralah dalam kebajikan
Rasul mulia shalallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda, “Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti, akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” (Hadits Rriwayat Imam Bukhari dan Muslim)
Sabda nabi tersebut merupakan anjuran kepada umat yang dicintainya agar bersegera dalam menunaikan amal kebajikan. Jangan menunda-nunda perbuatan baik. Anjuran itu sekaligus sebagai tuntunan menyikapi suatu keadaan yang beliau pun mengingatkannya, yaitu akan munculnya berbagai macam fitnah. Apabila keadaan yang penuh fitnah itu terjadi, maka orang-orang yang bersegera dalam berbuat baik dan men-dawamkan-nya, mereka akan mendapat perlindungan Allah SWT.Fitnah itu, disifati, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Sebuah tamsil tentang keadaan yang diliputi keburukan. Dalam gulita, tidak dapat dikenali mana yang asli, mana yang palsu. Sulit dibedakan mana yang baik, mana yang buruk. Di tengah kegelapan orang hanya meraba dan menduga bercampur perasaan galau dan curiga. Konon, hanya mereka yang punya itikad jahat yang bisa hidup senang dalam kegelapan.
Mungkinkah fitnah itu sedang hadir dalam kehidupan kita hari-hari ini? Wallahu’alam. Hanya saja, alangkah baiknya bila kita bersikap waspada, mengingat perkembangan, akhir-akhir ini, tak kunjung mengarah pada kehidupan yang lebih baik. Kekuatan-kekuatan destruktif terus bermunculan memupus aset-aset kebajikan yang selama ini kita miliki.
Para elite seolah lebih suka bersengketa dan alpa memikirkan derita rakyat jelata. Tokoh-tokoh umat saling berlomba meraih kedudukan, kendati untuk mencapainya seringkali harus menodai keyakinan atau melecehkan agamanya sendiri.
Mengarifi kenyataan itu, sungguh bijak jika kita menyambut imbauan Rasulullah saw, tidak menunda untuk berbuat baik. Bahkan terus memperbanyak amal kebajikan sejauh yang dapat kita sanggupi.
Maka marilah kita segera berbuat baik. Sesungguhnya pastilah Allah menyertai orang-orang yang berbuat baik


No comments:
Post a Comment